Oleh Kiki Barkiah
(Disampaikan sebagai materi pembuka kuliah via WhatsApp group IIP Mesir)
Bab 1 : Pendidikan Yang Mencerdaskan
Semua orang tua pasti bahagia jika memiliki anak-anak yang cerdas. Sayangnya sebagian diantara mereka menganggap bahwa salah satu jalan mencerdaskan anak adalah dengan menyekolahkan anak sedini mungkin. Padahal masa-masa pengikatan hubungan anak dan orang tua yang paling berharga dan menjadi modal besar bagi hubungan mereka di masa yang akan datang adalah kedekatan di masa -masa awal tumbuh kembang mereka. Sekolah memang salah satu sarana mencerdaskan anak, namun bukan berarti proses mencerdasakan anak tidak dapat dilakukan diluar bangku sekolah.
Saat ini berbagai produk-produk edukasi mulai berjamur di masyarakat dan menginspirasi para orang tua untuk mengisi waktu yang berkualitas dengan anak-anak mereka. Berbagai pengetahuan kognitif mulai diberikan sedini mungkin bahkan tak jarang para ibu berbayi disibukkan dengan membacakan kartu belajar kepada bayi-bayi mereka.
Dalam kehidupan nyata ternyata kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lalu bagaimanakah proses pendidikan yang mencerdaskan? Sebelum kita membahas proses, tentunya kita harus dapat mendefinisikan kecerdasan yang kita ingin raih dari proses yang kita dilakukan. Menyimpulkan dari beberapa definisi cerdas yang ditulis para ahli, kecerdasan yang sebaiknya kita bangun dalam diri anak-anak diantaranya:
Dari point diatas dapat jelas terlihat bahwa yang lebih penting dalam sebuah proses belajar adalah bagaimana ilmu itu dapat berbuah amal. Bagi seorang muslim kecerdasan yang dibangun dengan definisi diatas belumlah sempurna. Dalam sebuah hadist disebutkan Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah)
Masya Allah, agama islam yang mulia telah secara sempurna mendefinisikan orang yang paling cerdas dari sebuah titik akhir kehidupan. Betapa sayangnya jika orang-orang yang cerdas dalam definisi yang utarakan para ahli tidak berbuah pada kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu prinsip penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah apapun proses belajar yang kita lakukan harus berbuah pada upaya mempersiapkan kematian.
Dari definisi tersebut sangatlah nyata terlihat bahwa pengetahuan kognitif hanyalah salah satu bagian kecil dari proses pendidikan yang mencerdaskan. Maka amatlah disayangkan jika nilai-nilai yang baik dari anak-anak kita, prestasi gemilang dari anak-anak kita, banyaknya materi yang dihafal anak-anak kita, tidak menjadikan mereka memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan apalagi mengharapkan mereka dapat menciptakan hal baru yang bermanfaat bagi manusia.
Apapun bentuk pendidikan yang kita pilih bagi anak-anak kita, baik itu pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal seperti melalui kursus dan pelatihan, ataupun pendidikan di dalam rumah yang kini terkenal dengan istilah home education dan homeschooling, upayakanlah agar proses itu menjadi proses pendidikan yang mencerdaskan.
Bab 2: Membangun Lingkungan yang Mencerdasakan Anak-anak Usia Pra Sekolah dari Dalam Rumah
Sebagian besar orang tua tidak menyadari bahwa hal-hal yang terlihat sepele atau yang biasa terjadi didalam lingkungan rumah adalah proses pendidikan yang menentukan kecerdasan. Sebagian dari mereka berfikir bahwa membangun kecerdasan dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi yang bersifat memberi tambahan pengetahuan kognitif. Bahkan sayangnya mereka cenderung disibukkan dengan proses belajar membaca, menulis dan menghitung. Sehingga tidak jarang kita melihat anak-anak pintar yang berprestasi di sekolah masih manja dan tidak bisa memenuhi keperluan dirinya.
Hal yang jauh lebih penting dalam mempersiapkan anak-anak usia pra sekolah bukanlah kemampuan mereka dalam membaca, menulis dan berhitung namun mempersiapkan mereka memiliki perilaku dan sikap yang baik dalam belajar sehingga terbangun kepribadian manusia pembelajar dalam diri mereka.
Sikap yang perlu dibangun untuk melahirkan anak-anak yang cerdas pada awal-awal usia kehidupan mereka yang jauh lebih penting daripada memberikan pengetahuan kognitif, diantaranya:
Huruf
Semua materi diatas sifatnya hanya pengenalan. Mungkin ada beberapa anak yang mudah menerima konsep tersebut tapi ada juga yang membutuhkan waktu. Proses tersebut dapat terus kita lanjutkan sedemikian hingga diharapkan anak anak telah memiliki pencapaian berikut diakhir usia TK:
Lalu bagaimana tentang kemampuan membaca? Mungkin banyak para orang tua yang merasa panik ketika anak-anak belum bisa membaca saat usia lulus TK. Dalam buku Miseducation Preschool at Risk, David Elkind justru merekomendasikan untuk mulai belajar membaca secara simbolik saat usia anak anak kehilangan gigi susu. Meskipun begitu pada beberapa anak yang mampu dan menunjukkan minat serta melakukan dengan senang, proses belajar membaca bisa dilakukan lebih awal. Hal yang jauh lebih penting dari mengajarkan skill membaca adalah:
Ketidakbijaksanaan dalam.mengajari anak-anak membaca justru dapat berakibat menghilangkan fitrah mereka sebagai manusia pembelajar. Fenomena saat ini banyak anak-anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menangkap isi bacaan karena kekurang tepatan langkah awal dalam mengenalkan dunia membaca.
Dari pemaparan diatas ternyata proses menciptakan lingkungan yang mencerdaskan anak menjadi sangatlah sederhana. Orang tua yang ingin melakukan homeschooling di usia dini tidak perlu terlalu panik dalam menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran. Dalam pendapat penulis yang dibutuhkan dalam usia awal-awal kehidupan mereka hanyalah sebagai berikut:
Referensi
http://en.m.wikipedia.org/wiki/Intelligence
http://www.greatschools.org/students/academic-skills/1207-kindergarten-benchmarks.gs
http://www.icanteachmychild.com/71-things-your-child-needs-to-know-before-kindergarten/
Miseducation preschool at risk; David Elkind
Sumber: FP Kiki Barkiah
(Disampaikan sebagai materi pembuka kuliah via WhatsApp group IIP Mesir)
Bab 1 : Pendidikan Yang Mencerdaskan
Semua orang tua pasti bahagia jika memiliki anak-anak yang cerdas. Sayangnya sebagian diantara mereka menganggap bahwa salah satu jalan mencerdaskan anak adalah dengan menyekolahkan anak sedini mungkin. Padahal masa-masa pengikatan hubungan anak dan orang tua yang paling berharga dan menjadi modal besar bagi hubungan mereka di masa yang akan datang adalah kedekatan di masa -masa awal tumbuh kembang mereka. Sekolah memang salah satu sarana mencerdaskan anak, namun bukan berarti proses mencerdasakan anak tidak dapat dilakukan diluar bangku sekolah.
Saat ini berbagai produk-produk edukasi mulai berjamur di masyarakat dan menginspirasi para orang tua untuk mengisi waktu yang berkualitas dengan anak-anak mereka. Berbagai pengetahuan kognitif mulai diberikan sedini mungkin bahkan tak jarang para ibu berbayi disibukkan dengan membacakan kartu belajar kepada bayi-bayi mereka.
Dalam kehidupan nyata ternyata kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lalu bagaimanakah proses pendidikan yang mencerdaskan? Sebelum kita membahas proses, tentunya kita harus dapat mendefinisikan kecerdasan yang kita ingin raih dari proses yang kita dilakukan. Menyimpulkan dari beberapa definisi cerdas yang ditulis para ahli, kecerdasan yang sebaiknya kita bangun dalam diri anak-anak diantaranya:
- Kemampuan menyimpan informasi dalam memori
- Kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
- Kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
- Kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
- Kemampuan untuk memecahkan masalah
- Kemampuan untuk menciptakan hal baru
- Kemampuan untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru
Dari point diatas dapat jelas terlihat bahwa yang lebih penting dalam sebuah proses belajar adalah bagaimana ilmu itu dapat berbuah amal. Bagi seorang muslim kecerdasan yang dibangun dengan definisi diatas belumlah sempurna. Dalam sebuah hadist disebutkan Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah)
Masya Allah, agama islam yang mulia telah secara sempurna mendefinisikan orang yang paling cerdas dari sebuah titik akhir kehidupan. Betapa sayangnya jika orang-orang yang cerdas dalam definisi yang utarakan para ahli tidak berbuah pada kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu prinsip penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah apapun proses belajar yang kita lakukan harus berbuah pada upaya mempersiapkan kematian.
Dari definisi tersebut sangatlah nyata terlihat bahwa pengetahuan kognitif hanyalah salah satu bagian kecil dari proses pendidikan yang mencerdaskan. Maka amatlah disayangkan jika nilai-nilai yang baik dari anak-anak kita, prestasi gemilang dari anak-anak kita, banyaknya materi yang dihafal anak-anak kita, tidak menjadikan mereka memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan apalagi mengharapkan mereka dapat menciptakan hal baru yang bermanfaat bagi manusia.
Apapun bentuk pendidikan yang kita pilih bagi anak-anak kita, baik itu pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal seperti melalui kursus dan pelatihan, ataupun pendidikan di dalam rumah yang kini terkenal dengan istilah home education dan homeschooling, upayakanlah agar proses itu menjadi proses pendidikan yang mencerdaskan.
Bab 2: Membangun Lingkungan yang Mencerdasakan Anak-anak Usia Pra Sekolah dari Dalam Rumah
Sebagian besar orang tua tidak menyadari bahwa hal-hal yang terlihat sepele atau yang biasa terjadi didalam lingkungan rumah adalah proses pendidikan yang menentukan kecerdasan. Sebagian dari mereka berfikir bahwa membangun kecerdasan dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi yang bersifat memberi tambahan pengetahuan kognitif. Bahkan sayangnya mereka cenderung disibukkan dengan proses belajar membaca, menulis dan menghitung. Sehingga tidak jarang kita melihat anak-anak pintar yang berprestasi di sekolah masih manja dan tidak bisa memenuhi keperluan dirinya.
Hal yang jauh lebih penting dalam mempersiapkan anak-anak usia pra sekolah bukanlah kemampuan mereka dalam membaca, menulis dan berhitung namun mempersiapkan mereka memiliki perilaku dan sikap yang baik dalam belajar sehingga terbangun kepribadian manusia pembelajar dalam diri mereka.
Sikap yang perlu dibangun untuk melahirkan anak-anak yang cerdas pada awal-awal usia kehidupan mereka yang jauh lebih penting daripada memberikan pengetahuan kognitif, diantaranya:
- Anak dapat menunjukkan semangat dan rasa ingin tahu sebagai seorang pembelajar
- Anak memiliki daya tahan dalam mengerjakan tugas sampai tuntas dan bersedia mencari bantuan ketika menghadapi masalah
- Anak bersikap menyenangkan dan kooperatif dalam kegiatan belajar.
- Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan satu atau lebih anak-anak
- Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan orang dewasa yang dikenal
- Anak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok
- Anak dapat bermain dengan orang lain dengan cara yang baik
- Anak bersedia bergiliran dan berbagi mainan
- Anak dapat membersihkan dan merapihkan lingkungan setelah menggunakannya
- Anak dapat mencari bantuan orang dewasa bila diperlukan untuk menyelesaikan konflik
- Anak dapat menggunakan kata-kata dan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik
- Anak dapat mendengarkan dengan pemahaman terhadap arahahan, perintah dan percakapan
- Anak khususnya usia pra sekolah dapat mengikuti satu sampai dua petunjuk
- Anak dapat berbicara dengan cukup jelas untuk dipahami tanpa harus memberikan petunjuk kontekstual
- Anak dapat bercerita berkaitan pengalaman disertai dengan pemahaman tentang urutan peristiwa
- Anak memiliki minat terhadap kegiatan yang berhubungan dengan membaca
- Anak mendengarkan dengan antusias saat dibacakan buku
- Anak dapat menyampaikan kembali informasi yang didapat dari cerita
- Anak dapat menunjukan urutaan cerita melalui gambar secara logis
- Anak dapat bermain peran dengan benda-benda
- Anak dapat mengambil peran dalam permainan berpura-pura
Huruf
- Mengenalkan huruf
- Mengidentifikasi huruf besar
- Mengidentifikasi huruf-huruf kecil
- Pola dan hubungan berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran
- Pengelompokan benda
- Mengenali pola sederhana dan menduplikasi pola
- Menghitung sampai 20
- Menghitung benda dalam kisaran jumlah 10
- Mencocokan angka
- Mengidentifikasi angka secara simbolik 0-10
- Mengidentifikasi 4 bentuk- lingkaran, persegi, persegi panjang, segitiga
- Menunjukkan konsep posisi / arah, konsep (atas / bawah, di atas /di bawah, didalam/ diluar, di belakang / di depan, di samping / di antara, tinggi / rendah, kanan / kiri, nyala / mati, pertama / terakhir, jauh / dekat, maju/berhenti).
- Menunjukkan pemahaman dalam menggunakan kata-kata pembanding (besar / kecil, pendek / panjang, tinggi / pendek, lambat / cepat, sedikit / banyak, kosong / penuh, kurang / lebih).
- Dapat menggunakan dan mengendalikan sepeda roda tiga
- Melompat di tempat dan mendarat dengan dua kaki
- Dapat berdiri dengan satu kaki selama 5 detik
- Melompat dengan 1 kaki 2-3 kali lompatan
- Melempar bola dengan arah
- Menangkap bola yang dilempar dengan tangan
- Memanjat tangga bermain
- Melompat dengan lancar selama 20 kaki
- Menumpuk sampai 10 balok
- Meronce manik manik besar
- Melengkapi puzzle tujuh potongan
- Membuat pancake, ular, dan bola dari plastisin
- Memegang pensil dengan benar
- Menyalin garis vertikal, garis horizontal, lingkaran, persegi, V, segitiga
- Menulis nama depan
- Menulis nama depan tanpa contoh
- Memegang gunting dengan benar
- Potongan dalam garis lurus di atas kertas konstruksi
- Memotong persegi di atas kertas konstruksi
- Memotong segitiga di atas kertas konstruksi
- Memotong lingkaran di atas kertas konstruksi
- Menggunakan lem dan menempel tepat
- Menggunakan lem dalam jumlah yang tepat saat mengerjakan tugas-tugas
Semua materi diatas sifatnya hanya pengenalan. Mungkin ada beberapa anak yang mudah menerima konsep tersebut tapi ada juga yang membutuhkan waktu. Proses tersebut dapat terus kita lanjutkan sedemikian hingga diharapkan anak anak telah memiliki pencapaian berikut diakhir usia TK:
- Anak dapat mengikuti aturan kelas
- Anak dapat terpisah dari orang tua atau pengasuh dengan mudah
- Anak bersedia melakukan sesuatu secara bergiliran
- Anak dapat memotong menggunakan gunting mengikuti garis
- Anak telah menentukan tangan mana yang secara dominan
- Anak memahami konsep-konsep waktu seperti kemarin, hari ini, dan besok
- Anak dapat berbaris dengan tertib
- Anak dapat menyetujui dan mengikuti petunjuk dengan mudah
- Anak dapat berkonsentrasi selama 15 sampai 20 menit
- Anak dapat memegang krayon dan pensil dengan benar
- Bersedia berbagi mainan dan alat belajar
- Mengetahui 10 warna dasar: merah, kuning, biru, hijau, oranye, hitam, putih, dan pink, coklat, ungu
- Anak dapat mengenali dan menulis huruf-huruf alfabet dalam bentuk huruf besar dan huruf kecil
- Anak dapat mengetahui hubungan antara huruf dan suara yang mereka buat
- Anak diharapkan dapat mengenali kata atau membaca kalimat sederhana
- Anak dapat mengeja atau menulis nama lengkapanya
- Anak dapat menceritakan kembali cerita yang telah dibaca dengan suara keras
- Anak dapat menyampaikan pendapat melalui menggambar, menulis, atau berbicara
- Anak dapat mengidentifikasi dan menulis angka 0-20
- Menghitung dengan satuan dan puluhan hingga 100
- Menyelesaikan soal penjumlahan sampai dengan 10
- Menyelesaikan soal pengurangan dengan angka 0-10
- Mengetahui bentuk dasar seperti persegi, segitiga, segi empat, dan lingkaran
- Mengetahui alamat dan nomor telepon nya untuk keperluan keamanan diri
- Anak dapat berpartisipasi dalam kegiatan gerak tubuh (seperti senam atau tari) dalam kelompok
- Anak dapat menggunakan berbagai bahan-bahan seni untuk pengalaman eksplorasi
Lalu bagaimana tentang kemampuan membaca? Mungkin banyak para orang tua yang merasa panik ketika anak-anak belum bisa membaca saat usia lulus TK. Dalam buku Miseducation Preschool at Risk, David Elkind justru merekomendasikan untuk mulai belajar membaca secara simbolik saat usia anak anak kehilangan gigi susu. Meskipun begitu pada beberapa anak yang mampu dan menunjukkan minat serta melakukan dengan senang, proses belajar membaca bisa dilakukan lebih awal. Hal yang jauh lebih penting dari mengajarkan skill membaca adalah:
- Proses menamkan kecintaan kepada buku dan ilmu
- Melatih kemampuan anak dalam memahami isi bacaan.
- Memperluas kosakata melalui kegiatan membaca
- Memperluas wawasan melalui kegiatan membaca
Ketidakbijaksanaan dalam.mengajari anak-anak membaca justru dapat berakibat menghilangkan fitrah mereka sebagai manusia pembelajar. Fenomena saat ini banyak anak-anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menangkap isi bacaan karena kekurang tepatan langkah awal dalam mengenalkan dunia membaca.
Dari pemaparan diatas ternyata proses menciptakan lingkungan yang mencerdaskan anak menjadi sangatlah sederhana. Orang tua yang ingin melakukan homeschooling di usia dini tidak perlu terlalu panik dalam menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran. Dalam pendapat penulis yang dibutuhkan dalam usia awal-awal kehidupan mereka hanyalah sebagai berikut:
- Perbanyak menyusui secara langsung tanpa bantuan botol
- Perbanyak diskusi tentang lingkungan sekitar
- Perbanyak melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari
- Perbanyak melatih mereka melakukan keperluan dirinya sendiri dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi
- Perbanyak kegiatan membaca buku bersama mereka dan mendiskusikan isi bacaan
- Perbanyak olahraga bersama mereka
- Perbanyak melakukan kegiatan bermain aktif
- Perbanyak cinta dan kasih sayang
- Perbanyak membaca al quran sejak dalam kandungan
- Perbanyak doa dan sedekah, insya Allah
Referensi
http://en.m.wikipedia.org/wiki/Intelligence
http://www.greatschools.org/students/academic-skills/1207-kindergarten-benchmarks.gs
http://www.icanteachmychild.com/71-things-your-child-needs-to-know-before-kindergarten/
Miseducation preschool at risk; David Elkind
Sumber: FP Kiki Barkiah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar